Ketrampilan Wajib Masa Kecil
Sebagai anak desa yang tumbuh dan besar di sebuah desa kecil di daerah aliran Sungai Lusi, ada beberapa ketrampilan yang pada jaman dahulu “wajib” saya kuasai agar ngumumi dengan teman-teman sepermainan.
Ketrampilan-ketrampilan ini biasanya ditularkan dari satu orang ke orang lain, baik secara langsung maupun secara ghoib dengan metode “katanya”. Ada yang saya pelajari dari teman sepermainan, ada pula yang saya curi ilmunya dari bapaknya teman.
Penasaran dengan ketrampilan-ketrampilan yang pada jaman saya kecil seolah menjadi kurikulum wajib?
Membuat Ketapel

Photo credit: phototrimaryono.wordpress.com
Ketapel, blandring, atau plintheng. Mainan sekaligus senjata yang wajib dimiliki oleh anak laki-laki di kampung saya dulu. Kejelian dalam memilih cabang pohon berbentuk Y dan mengikatkan karet pentil sebagai pelontarnya adalah suatu hal yang lumrah dikuasai.
Bagian ketapel yang digunakan untuk membungkus batu/peluru disebut kalep, bahan yang paling sering digunakan adalah kulit potongan sabuk atau sendal, sedangkan yang dianggap keren adalah kalep dari kulit kepompong ulat mahoni yang tipis namun sangat kuat.
Jumlah karet pentil menandakan prestise. Anak biasa menggunakan 2-3 lapis karet pentil untuk pelontar pelurunya, sedangkan anak kuat menggunakan 4-6 lapis karet pentil. Semakin banyak pentil yang digunakan, semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk menembakkan ketapel dan semakin mematikan ketapel tersebut saat digunakan untuk berburu burung.
Jumlah burung yang berhasil ditembak jarang menjadi bahan pembicaraan. Bahkan seumur-umur, saya baru satu kali mendapatkan burung menggunakan ketapel.
Membuat Petasan

Photo credit: merdeka.com
Bulan puasa dan mercon adalah paket wajib waktu itu. Semakin banyak jumlah sampah kertas pecahan mercon yang bertaburan di jalan seolah menjadi pertanda kesejahteraan suatu kampung.
Waktu itu, setiap anak lelaki seolah wajib menguasai teknik pembuatan mercon. Berbekal dua batang kayu silinder dengan paku tertancap di salah satu ujungnya dan setumpuk kertas bekas, seorang anak laki-laki siap membuat tabung kertas dan mengisikan “obat mercon” yang bisa dibeli di pengecer terdekat.
Dijual per ons, serbuk berwarna perak kehijauan itu siap menggetarkan suasana bulan puasa. Ukuran mercon terbesar yang pernah saya buat hanya berdiameter sekitar 5 cm, saya tancapkan ke kotoran sapi yang menggunung dan saat meledak melemparkan kotoran sapi ke segala penjuru.
Beberapa kawan yang bernyali lebih besar biasanya akan membuat mercon dengan ukuran lebih besar, berdiameter sekitar 7-10 cm atau bahkan lebih.
Membuat Gasing Kayu

Photo credit: https://petegodhog.blogspot.co.id/2012/09/gasing.html
Gasing kayu biasa dimainkan di musim kemarau, dimainkan secara berkelompok di halaman rumah tetangga yang berpasir. Gasing biasanya dibuat dari kayu terkeras dan terberat yang bisa ditemukan agar kuat saat digunakan menghantam gasing lawan.
Gasing terbaik yang pernah saya buat berbahan kayu nangka, dari pohon nangka yang sudah terlihat “galih”-nya. Berwarna kuning kehitaman, dengan paku yang ditumpulkan di bagian pangkalnya dan dipasang di dasar gasing agar bisa berputar selama mungkin. Paku tersebut juga digunakan sebagai titik benturan agar bisa menghancurkan gasing lawan saat pertandingan “death match”.
Tak hanya mahir membuat, anak lelaki di kampung saya waktu itu harus bisa memainkan gasing. Teknik melilit tali ke gasing sangat menentukan agar saat memutar gasing posisinya tidak terbalik karena bisa jadi bahan tertawaan.
Memilin Tali Gasing

Photo credit: https://archive.kaskus.co.id/thread/2532406/0/permainan-rakyat—gambar
Tali yang digunakan untuk memutar gasing adalah tali buatan sendiri, tidak bisa menggunakan tali tambang yang dijual di warung karena ukuran tali gasing semakin mengecil di ujungnya.
Tali ini biasanya dibuat dari kulit pohon waru, serat batang pohon pisang, atau dari kain sobekan sarung/jarik. Panjangnya sekitar satu meter atau menyesuaikan dengan diameter gasing yang dimiliki. Tak jarang seorang anak memiliki tali yang berbeda-beda untuk tiap gasing yang dimiliki.
Metode pembuatan tali ini disebut “nampar” yang berarti membuat “tali tampar” atau tali yang bentuknya berpilin-pilin. Dua helai bahan tampar dipilin di paha sedikit demi sedikit sampai jadi. Dibutuhkan paha yang tidak berbulu atau bulu-bulu kaki akan langsung gundul setelahnya.
Nah demikianlah beberapa macam ketrampilan yang seolah wajib dikuasai oleh anak-anak seumuran SD pada jaman saya kecil. Anak-anak yang tidak menguasai ketraampilan-ketrampilan tersebut tidak akan dikucilkan, malah biasanya dibantu dibuatkan agar bisa ikut bermain bersama.
Jadi bagaimana, masa kecil saya keren bukan?
7 comments
Leave a ReplyCancel reply
Archives
- April 2025
- March 2025
- February 2025
- November 2023
- January 2023
- October 2022
- August 2022
- April 2022
- March 2022
- January 2022
- July 2021
- October 2020
- August 2020
- June 2020
- January 2020
- November 2019
- July 2019
- December 2018
- October 2018
- September 2018
- August 2018
- May 2018
- March 2018
- February 2018
- December 2017
- September 2017
- June 2017
- March 2017
- February 2017
- January 2017
- December 2016
- November 2016
- October 2016
- August 2016
- July 2016
- June 2016
- May 2016
- April 2016
- March 2016
- February 2016
- January 2016
- December 2015
- November 2015
- October 2015
- September 2015
- August 2015
- July 2015
- June 2015
- April 2015
- March 2015
- February 2015
- January 2015
- December 2014
- November 2014
- October 2014
- September 2014
- August 2014
- July 2014
- May 2014
- April 2014
- March 2014
- February 2014
- November 2013
- October 2013
- September 2013
- July 2013
- June 2013
- January 2013
- December 2012
- June 2012
- May 2012
- April 2012
- March 2012
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- November 2011
- October 2011
- September 2011
- August 2011
- July 2011
- June 2011
- May 2011
- April 2011
- March 2011
- February 2011
- January 2011
- December 2010
- November 2010
- October 2010
- September 2010
- August 2010
- July 2010
- June 2010
- May 2010
- April 2010
- March 2010
- February 2010
- January 2010
- December 2009
- November 2009
- October 2009
- September 2009
- August 2009
- July 2009
- June 2009
- May 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008
- July 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- March 2007
- February 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- June 2006
- March 2006
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | |||||
Kalau keahlian saya waktu kecil adalah manjat pohon. Hampir semua jenis pohon buah di desa saya, desa Tuntang namanya, sebuah desa didekat kota Salatiga Jawa Tengah, pernah saya panjat lalu saya curi buahnya. Jadi mungkin secara spesifik, keahlian saya waktu kecil adalah nyolong buah dari pohonnya. Hahahahaha *ngaku*
kalo bikin layangan dan nggelas benang layangan, masuk gak?
Kalau masa kecil saya seringnya main benthik
kalo sampeyan pernah main dengan alat-alat itu berari anda sudah tua 😀
______________________sama 😀
nostalgiaaaaaaa