Lemparan sepi oleh sang malam

Abis dari Beyond bareng Jeng Tika dan Gunawan, saya langsung koprol ke angkringan Tugu sementara yang lain salto ke peraduan masing-masing. Hati ini rasanya masih belum rela untuk diajak pulang, masih pengen jalan-jalan dan menikmati malam.

Setelah sempat mengalami penggusuran, angkringan tugu sekarang semakin ramai tiap malam. Dan dalam beberapa hal malah menjadi tidak terlalu berbeda dengan tempat nongkrong lainnya.

Tapi inilah yang namanya perubahan, suka atau tidak suka kita harus menghadapinya. Dan kalau kita tidak bisa merubah keadaan maka kitalah yang harus menyiapkan hati untuk menerima segala perubahan itu sendiri.

Kembali ke masalah angkringan, saya sering kesepian di sini meskipun tempatnya ramai luar biasa. Bisa saja saya ajak ngobrol siapa saja yang saya temui di sini tapi sayangnya saya bukan tipe orang yang pandai memulai pembicaraan.

Ah, teh saya sudah datang. Kali ini tanpa gula batu karena sudah kehabisan. Ga jauh beda sih, meskipun tak bisa sama.

Manusia-manusia malam yang ada di sini semuanya membentuk koloni-koloni. Ada satu koloni besar yang terlibat pembicaraan hangat sambil sesekali tertawa cekikan, dengan latar belakang suara genjrengan gitar.

Ah sepi sekali, teriak hati saya. Malam memang hanya untuk orang-orang yang berhati resah. Yang hatinya tenteram pastilah sudah mendarat di peraduan dan bermain-main dengan mimpi mereka masing-masing.

Lalu kenapa resah? Itulah, saya akan tetap resah sampai saya mengetahui penyebab keresahan ini. Dan mendadak saya pengen ketemu salah satu makhluk malam yang menganggap saya sebagai salah satu belahan dada bijinya.

Hanya kepengen saling tumpahkan isi dada diselingi suara sruputan di gelas kopi dan asap rokok yang bertaburan. Sambil sesekali menikmati indahnya diam.

Ah iya, ini saya tulis di henpon jadi nanti akan saya edit lagi hanya untuk menambahkan link nama-nama yang saya sebutkan.

Otak saya lalu melompat ke entri wikipedia yang saya baca tadi siang, tentang keitai dan gaya hidup orang jepang. Komputer (desktop) dan laptop kadang memang terlalu berlebihan jika sekedar untuk membaca dan menulis.

Eh, si Mbak Keyon-Keyon mulai tampil dengan kicrikan tutup botolnya. Saya yakin Pangsit maupun Yudhist akan tertawa cekikan kalau melihat performance street artist ini.

Performance yang akan membuat orang tak tega melihat, atau melihatnya dengan tertawa-tawa.

Sudah ah, teh saya keburu dingin.

NOTE:
Postingan sudah saya update berupa tambahan-tambahan link.

18 Comments

Add yours

  1. memang sayang ya …

    selagi masih bisa dinikmati, mengapa tidak?

    hi hi hi

  2. kenapa nongkrong malem lebih asik dibanding nongkrong pagi atau siang??

  3. kejadian yang sama terjadi pada Blandongan. yang membuat para penikmat kopi hitam sejati akhirnya pada berpindah ke Nucleus ato Ningratri…

  4. mas es tehnya satu

  5. saya juga rindu ketemu kamu yang diam dan senyum dan sesekali terbahak mendengar resah saya. saya juga rindu dijadikan bahu imajiner.

    hyuk… tanggal 4 kan? i’ll be waiting, hun.

    (=

  6. kapan2 ke nning ratri kang… mosok yang dkeet malah jarang disambangi ..

    oya.. saya cekikikan klo mbak keyon2 nya sudah pergi.. tapi klo lagi tampil.. saya nya gilo 😀

  7. ayo ayo… ayo ayo… keyon keyon…keyon keyon..
    gyahahahaha…
    ciee sandaaalll.. tak jodohke po ndal..

  8. Aaku suka malam daripada siang hari, entah karena keheningannya tau apa. Tapi aku suka malam :mrgreen:

  9. jadi sekarang sudah ketemu penyebab keresahanmu itu?

  10. ya memang berubah itu ngga enak.. 🙂

  11. Syukurlah gak jadi kegusur.

    .::he509x™::.

  12. ah jadi kangen jogja lagi..

    * mbak keyon keyon itu masih berbiji nggak ?

  13. programmer, ngelamunnya nggak jauh dari teknologi

  14. heya there! R U allrite?

  15. ada 1 hiburan buatku ndal yang bisa ngilangin malam2 sepi.. ngumpul brg pengamen, bernyanyi bersama.. itu menyenangkan dan bikin betah tinggal di jogja..

  16. ah jadi rindu menikmati malam2 di jogja…

  17. yang suka minta karet gelang itu ya jeng? 😀

  18. *menahan tangis kerinduan yang amat sangat*

Leave a Reply