Makan Apa di Cirebon?
Dua minggu yang lalu kami ke Cirebon untuk menghadiri pernikahan Agung. Salah satu pertanyaan yang terlintas di kepala saat itu adalah makanan apa yang perlu kami coba di kota –yang oleh Thomas Stamford Raffles sering ditulis sebagai Tjeribon (Ceribon) di bukunya yang berjudul History of Java– tersebut.
Beberapa teman menganjurkan untuk mencoba nasi jamblang, empal gentong, maupun menu-menu yang lain; sebagaimana yang dianjurkan oleh situs-situs kuliner yang kami temukan dari hasil pencarian di Internet.
Karena tidak mau dibingungkan dengan pilihan tempat makan yang terlalu banyak, akhirnya kami memutuskan untuk makan di sembarang tempat yang kami temukan karena menurut kami semua tempat pasti memiliki corak rasa berbeda.
Dan inilah beberapa tempat yang kami coba dan rasanya menggugah selera. Tak perlu bingung bagaimana menuju ke tempat-tempat tersebut karena di Cirebon angkot lewat hampir setiap 5 menit, menyenangkan bukan?
Warung Siliwangi
Sesuai namanya, Warung Siliwangi ini terletak di Jalan Siliwangi, tepat di sebelah Hotel Sidodadi.

Warung ini sebenarnya warung makan biasa, tetapi mengingat Cirebon berada di kawasan pantai utara Jawa, banyak pilihan masakan hasil laut yang disediakan.
Saya mencoba sate udang yang ukuran udangnya di atas rata-rata, rasa dagingnya maniiiiis. Iya, manis. Manis karena dagingnya masih segar.
Bayangkan, empat udang seukuran jempol kaki dalam setiap tusuknya.
Sop Bubur Ayam
Sesuai namanya, sop bubur ayam adalah makanan generik yang bisa ditemukan di banyak tempat di Cirebon. Kebetulan saya menemukan warung kecil yang menjual sop bubur ayam ini di sebelah pintu keluar Pantai Pejawanan ketika menunggu angkot lewat.

Sepintas tampilannya mirip sop/soto ayam pada umumnya dengan hiasan irisan tomat segar. Yang membedakan adalah penggunaan bubur beras sebagai pengganti nasi dan cita rasa tauco yang segar di kuahnya.
Rasa kuah berbumbu tauco tersebut mengingatkan saya kepada rasa swike Purwodadi yang legendaris.
Nasi Jamblang
Tadinya saya mengira nasi jamblang adalah menu khusus tetapi ternyata warung nasi jamblang ini hampir mirip dengan angkringan/warung hik yang banyak terdapat di Jogja maupun kota-kota lain di Jawa Tengah. Karena beda kultur maka beda pula cara penyajian dan menu makanannya.

Di warung nasi jamblang, nasi dibungkus kecil-kecil dengan daun jati dan dimakan dengan bermacam lauk-pauk. Yang paling khas adalah tahu dan daging ikan asin (dipotong kecil-kecil) yang digoreng kering.
Mie Koclok
Salah satu teman berkata bahwa mie koclok adalah makanan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Cirebon. Sayangnya waktu sudah tidak memungkinkan untuk berburu mie koclok karena saat itu rombongan harus buru-buru balik ke Jogja.
Tapi namanya jodoh, mobil rombongan kami parkir tepat di depan warung mie koclok ketika kami berhenti di toko oleh-oleh di Jalan Siliwangi!

Sambil menunggu rombongan yang sedang belanja oleh-oleh, kami (saya dan istri) memesan sepiring mie koclok untuk kami makan berdua karena sebelumnya sudah makan di Tomodachi.

Kuahnya berwarna putih dan terbuat dari tepung beras dan santan. Cita rasa yang ringan membuat mie koclok ini enak disantap tanpa takut perut terasa penuh.
—
Nah, demikianlah makanan-makanan yang sempat kami nikmati sewaktu datang ke Cirebon. Saat pulang ada sedikit penyesalan karena belum sempat mencicipi bakso Cirebon. Penasaran aja sih, bagaimana rasa bakso Cirebon 😀
2 comments
Leave a ReplyCancel reply
Archives
- April 2025
- March 2025
- February 2025
- November 2023
- January 2023
- October 2022
- August 2022
- April 2022
- March 2022
- January 2022
- July 2021
- October 2020
- August 2020
- June 2020
- January 2020
- November 2019
- July 2019
- December 2018
- October 2018
- September 2018
- August 2018
- May 2018
- March 2018
- February 2018
- December 2017
- September 2017
- June 2017
- March 2017
- February 2017
- January 2017
- December 2016
- November 2016
- October 2016
- August 2016
- July 2016
- June 2016
- May 2016
- April 2016
- March 2016
- February 2016
- January 2016
- December 2015
- November 2015
- October 2015
- September 2015
- August 2015
- July 2015
- June 2015
- April 2015
- March 2015
- February 2015
- January 2015
- December 2014
- November 2014
- October 2014
- September 2014
- August 2014
- July 2014
- May 2014
- April 2014
- March 2014
- February 2014
- November 2013
- October 2013
- September 2013
- July 2013
- June 2013
- January 2013
- December 2012
- June 2012
- May 2012
- April 2012
- March 2012
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- November 2011
- October 2011
- September 2011
- August 2011
- July 2011
- June 2011
- May 2011
- April 2011
- March 2011
- February 2011
- January 2011
- December 2010
- November 2010
- October 2010
- September 2010
- August 2010
- July 2010
- June 2010
- May 2010
- April 2010
- March 2010
- February 2010
- January 2010
- December 2009
- November 2009
- October 2009
- September 2009
- August 2009
- July 2009
- June 2009
- May 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008
- July 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- March 2007
- February 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- June 2006
- March 2006
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | |||||
Kurang nasi lengko sama empal gentong, jeng.