Foto Bledug Kuwu dari Jaman Kumpeni

August 10, 2011 | Sejarah Keren | , , , , , ,

Dari sebuah link yang diberikan oleh Pengki yang berisi foto Ranu Kumbolo di jaman penjajahan Belanda, saya lalu melakukan pencarian untuk kampung kelahiran saya, Purwodadi.

Salah satu hasilnya adalah beberapa foto Bledug Kuwu, sebuah situs mud volcano yang menurut mitos merupakan jalur keluarnya Baru Klinthing (ular raksasa yang mengaku sebagai anaknya Aji Saka) setelah berhasil membunuh siluman buaya putih di pantai selatan.

Bledug Kuwu sendiri adalah gabungan dua kata, bledug dan Kuwu. Kuwu adalah sebuah kota kecil di sebelah timur Purwodadi. Dari sebuah buku yang saya curi baca di Gramedia (lupa judulnya), konon Kuwu adalah tempat kelahiran Ken Dedes. Entah benar entah salah, saya nggak tahu.

Berikut ini empat foto yang saya temukan di website dari Belanda tersebut.

Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) mengunjungi pabrik garam di Kuwu

Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) mengunjungi pabrik garam di Kuwu.

Susunan bambu untuk penguapan air (untuk mendapatkan garam) di sebuah pabrik garam di Kuwu

Susunan bambu untuk penguapan air (untuk mendapatkan garam) di sebuah pabrik garam di Kuwu.

Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) sedang melihat air yang menyembul dari dalam tanah

Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) sedang melihat air yang menyembul dari dalam tanah.

Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) di tempat sumber air asin yang memancar di Pertamina-nya kumpeni (NKPM: Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) di Kunduran, perbatasan Purwodadi dan Blora.

Anggota klub sejarah alam (natuurhistorische vereniging) di tempat sumber air asin yang memancar di Pertamina-nya kumpeni (NKPM: Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) di Kunduran, perbatasan Purwodadi dan Blora.

Di posting selanjutnya, akan saya upload beberapa foto Bledug Kuwu yang sempat saya ambil gambarnya beberapa tahun yang lalu. Stay tune!

13 comments

This post has 13 comments, woohoo!

  1. nicowijaya 10/08/2011 at 01:45

    waaooow… deket tanah kelahirankuu

  2. Q-thrynx 10/08/2011 at 11:23

    koq di gambar jeblug’an beldug kuwu kecil ya? dan klakahnya koq masih tetep sama ya…

    nice share Yen…

  3. escoret 10/08/2011 at 12:00

    keren ndal…..

  4. sandalian 11/08/2011 at 03:14

    @Nico
    Kamu lahir di Blora ya Nix?

  5. Ike Wulandari 11/08/2011 at 04:06

    hahhaha … sepertinya saya yg paling dekat sodara2 …
    kabar terbaru, petani garam semakin sedikit. Dan letupane semakin kecil sekarang… luas lahan yang menyemburkan air juga semakin menyempit ….
    *ayoooo berkunjung

  6. Pacul 13/08/2011 at 11:55

    pisan neng bledug kuwu, dalane hadeeeeh…….

  7. ayik 22/08/2011 at 19:05

    oooooooo…cip bagus

  8. computer zone 23/08/2011 at 22:42

    cuma sekali saya kesana dulu, lumayan dapet gandengan tangan dulu, cinta monyet katanya

  9. Ndoro Kakung 25/08/2011 at 20:09

    pas liburan Juni 2011, aku sempat ke Kuwu dari Solo. Itu kunjunganku yang ketiga setelah dua kali sebelumnya semasa kuliah. Jalan menuju ke sana rusak di beberapa titik. Sesampai di Kuwu, aku lihat bledugnya mengecil. Kata seorang penjaga warung, kalau musim hujan bledugnya membesar. Sayang sebagai lokasi wisata, Kuwu tak terawat

  10. Shinta 29/08/2011 at 21:49

    Wow…… Itu masih ada tah saat ini?

  11. rahmawan 01/11/2011 at 14:21

    kalo Ke bledug kuwu jangan lupa ke Kesongo. Disana tak kalah menarik dibanding bledug

  12. kerman 25/11/2011 at 15:29

    eh bledug kwu dket sma dsa q ha ha ha h ah ah n q cuka sjrah bledug kuwu

  13. tidar 14/01/2012 at 02:11

    dekat rumah simbah di grobogan

 

Leave a comment

Allowed tags are: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>