Nyebrang Bengawan Solo

September 1, 2013 | Gak Penting

Alkisah pada lebaran kemarin, kami sekeluarga merayakannya di rumah orang tua Puan Peri di Bojonegoro.

Pada lebaran hari kedua, kami berkunjung ke rumah salah satu saudara di seberang desa. Jalan paling cepat adalah dengan menyeberangi Bengawan Solo menggunakan perahu. Jika mengambil jalur darat, rutenya terlalu memutar dan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Sesampainya di tempat penyeberangan, sepeda motor harus dinaikkan ke perahu dengan posisi dinaiki.  nyebrang bengawan solo dengan motor

Nyebrang sungai dengan naik motor sih sudah pernah, waktu nyebrang Sungai Progo di Jogja. Yang membuat adrenalin melonjak adalah rem belakang blong saat akan masuk perahu, padahal jalanan menurun seperti pada gambar di atas.

Untung rem depan bisa membantu, fyuh..

Yang membuat was-was lagi adalah di perahu tidak ada palang kayu/bambu yang berfungsi sebagai stopper atau penahan roda. Alhasil rem harus selalu saya tekan saat perahu bergerak karena arus sungai membuat perahu agak mirang-miring 😀

Alhamdulillah perjalanan berangkat dan pulang bisa dilalui dengan selamat. Hanya Lumen yang bersedih dan hampir menangis karena keasyikannya naik perahu harus berakhir dalam waktu yang cukup singkat.

 

No comment

This post has no comments, you can be the first!

 

Leave a comment

Allowed tags are: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>