25/03/2008
Gak Penting

Merbabu Unplugged

PackingWell, it’s gonna be a loooong text. Beware!

Hari Rabu, tanggal 19 Maret saya pulang kantor rada awal, sekitar jam 14:30 WIB dan langsung meluncur ke kost. Segera packing, memasukkan barang-barang yang telah saya persiapkan sebelumnya ke dalam carrier dan memeriksa apa-apa saja yang kurang.

Di kost telah menunggu Pengki dan Mas Pandit, nantinya hanya Mas Pandit dan Ajeng yang berangkat duluan bareng saya. Sedangkan Pengki berangkat besok sorenya bareng Kepiting. Setelah semua bekal beres dan Ajeng datang, kami segera meluncur ke Terminal Jombor untuk naik bis jurusan Magelang. Sampai di Magelang, ganti angkot colt pengangkut sayur menuju Wekas yang berada di kaki Gunung Merbabu.

berjalan menuju basecamp
Kami sampai di pertigaan Wekas sekitar pukul 7-8 malam dan untuk menuju basecamp harus berjalan sekitar 2-3 kilometer menembus hutan serta areal persawahan/perkebunan yang gelap. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 1-1.5 jam, ternyata baru bisa diselesaikan setelah sekitar 3 jam! Beban berat, rasa lapar dan hujan gerimis yang sedikit menghambat langkah kami menuju basecamp pendakian.

Setelah berjuang habis-habisan, akhirnya kami sampai di basecamp. Doh, sampai basecamp aja udah ngos-ngosan, gimana besok mo naik?

Masak di dapur tidur

Segera kami pesan makan kepada Ibu Maryono, pemilik rumah yang dijadikan basecamp pendakian jalur Wekas. Ah, terharu juga melihat Ibu Maryono memanasi sayur tahu dan tempe pada tengah malam yang dingin hanya untuk menyiapkan makan bagi 3 orang kelaparan ini. Selesai makan, kamipun terkapar sukses!

Keesokan paginya, setelah sarapan kami bertiga segera berkemas dan memulai perjalanan. Rencana kami akan menunggu Kepiting dan Pengki di pos 2 jalur Wekas untuk selanjutnya bareng-bareng menuju puncak.

Foto di depan basecamp Mulai perjalanan

Kami dapat informasi bahwa beberapa hari terakhir hujan selalu turun mulai jam 11-12 siang sampai malam. Benar saja, setelah melewati pos 1 hujan turun rintik-rintik. Setelah mengenakan raincoat dan ponco untuk melindungi badan, kami tetap melanjutkan perjalanan. Sayang sekali kamera harus dikandangkan agar tidak basah kena air hujan.

Setelah 4-5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pos 2. Normalnya perjalanan menuju pos 2 hanya membutuhkan waktu 2-3 jam, tapi karena stamina sudah mulai menurun karena jarang olahraga maka perjalanan membutuhkan waktu yang cukup lama.

mendirikan tenda tenda kuning berdiri

Hujan masih turun rintik-rintik ketika kami mendirikan tenda kuning yang baru saya dapatkan beberapa hari sebelum perjalanan ini. Tak lebih dari 10 menit, tenda sudah berdiri dan barang-barang kami masukkan ke dalamnya. Tenda sebelah kiri di atas adalah tenda teman seperjalanan, ketemu di basecamp pendakian.

Cuaca dingin dan capek adalah pasangan serasi yang melahirkan rasa lapar. Setelah masak sederhana namun nikmat, dalam sekejap makanan sudah habis masuk perut. Lalu tibalah momen paling mengerikan dalam sejarah pergunungan, yaitu mencuci piring menggunakan air sedingin es!

Makaaaaan! nyuci piring pake air es T_T

Malamnya saya mendapat SMS dari Pengki yang memberitahu bahwa mereka akan menyusul lewat Desa Cuntel di jalur pendakian Kopeng. Malampun datang menyelimuti hutan dan gerimis masih saja turun. Terpaksa waktu lebih banyak kami habiskan untuk tidur di dalam sleeping bag masing-masing sehingga badan tidak terlalu merasakan dingin.

Besoknya (hari Jumat) belum ada kabar juga dari Pengki maupun Kepiting. Rada siangan dikit, ada sms dari Pengki masuk ke mGooi saya. Mereka ngajak ketemu di kawah karena jaraknya masih terlalu jauh dari pos 2 dan mereka sudah kecapekan.

Belum sempat konfirmasi ulang, hujan turun cukup deras. Lalu si Kepiting nelpon agar kami nyusul. Kondisi hujan yang terus-menerus tidak memungkinkan kami untuk menyusul ke atas. Lalu ketika Kepiting menghubungi lewat telepon saya katakan agar mereka yang turun karena hujan terlalu deras untuk menyusul ke atas.

Berharap mereka akan turun sore itu maka kami mempersiapkan masakan untuk mengobati capek dan rasa lapar yang pasti mereka derita. Namun sampai malam tiba (dan hujan masih tetap mengguyur!) mereka belum ada kabar juga. Kami mulai panik.

Parahnya lagi, sinyal GSM yang ada di pos 2 hanyalah Indosat, itupun angin-anginan sehingga kami tidak bisa menghubungi mereka atau sebaliknya. Kami hanya bisa berdoa malam itu, berkali-kali Ajeng menanyakan kepada saya bagaimana kira-kira kabar mereka. How did I know, Jeng?

Hari Sabtu, pagi-pagi buta. Ajeng membangunkan saya untuk mencari Pengki dan Kepiting ke atas. Setelah minum susu sereal untuk menghangatkan badan kami berdua pun berjalan menuju pertigaan puncak Sarip dan Kenteng Songo sedangkan Mas Pandit jaga tenda dan barang-barang.

Sepanjang jalan kami berteriak-teriak memanggil mereka, berharap mereka nge-camp di semak-semak yang kami lewati. Omaigat, kemarin mereka naik tanpa tenda dan bekal makanan! Tenda, bekal makanan dan kompor semua di carrier saya. Setahu saya Pengki dan Kepiting hanya membawa bekal makanan mentah, tabung gas dan rokok.

Sambil terus berharap agar mereka baik-baik saja, saya dan Ajeng terus berjalan ke atas menembus semak-semak dan batu-batu gunung yang bertebaran.

Pengki dan Kepiting di atas bukit
Lalu ketika saya teriakkan kata “Ependi” sekencang-kencangnya, ada suara balasan dari arah atas bukit! Ah, itu mereka! Perasaan lega yang muncul waktu itu seperti pistol ditodongkan ke kepala dan ketika pelatuknya ditarik ternyata pelurunya habis.

Thanks God mereka masih hidup, masih bisa berteriak pula..

Sesampainya di atas bukit, ternyata mereka bersama Mas Budi dan Mas Agus yang ketemu saya di pos 2 dua hari sebelumnya. Tadi malam ternyata mereka ditampung oleh Mas Budi dan Mas Agus di tenda mereka. Bayangkan, tenda yang hanya muat 2 orang itu harus diisi 4 orang dalam keadaan hujan dan kabut!

Kembali teori lingkaran setan terjadi di sini. Mas Agus ternyata temen Mas Dery, anak Ibu Kost di mana saya tinggal sekarang. Dahulu kala, Mas Agus sering maen di kamar saya ketika saya belum tinggal di sana. What a wow!

Kembali ke gunung, tangan Kepiting sempat terluka ketika berjalan menuju puncak gunung bersama Pengki, Mas Agus dan Mas Budi beberapa menit sebelum saya bertemu mereka. Beruntung dia masih sempat berpegangan batu ketika terpeleset di Jembatan Setan, sehingga badannya tidak terhempas ke jurang yang menganga di samping kanan dan kiri.

tangan berdarah first aid kit

Segera Ajeng mengeluarkan kotak P3K dari dalam day pack dan membalut luka di lengan Kepiting.

Pengki dan Kepiting sarapan mie rebus berjalan turun

Setelah dua makhluk itu menyantap mie rebus yang dibuat oleh Mas Agus dan Mas Budi, kamipun segera menuruni gunung menuju pos 2. Saya dan Ajeng memang sengaja tidak pergi ke puncak gunung karena sudah pernah ke sana. Ini adalah kali ke empat bagi Ajeng jalan-jalan ke Gunung Merbabu dan kali ke enam bagi saya. Kami cuma ingin menikmati alamnya, bukan mengejar puncak.

istirahat di pos 2Sampai di pos 2 kami istirahat sebentar sambil mengisi perut dan beres-beres tenda dan semua perlengkapan lainnya. Di bawah guyuran hujan, mau tidak mau kami harus segera turun agar bisa sampai Jogja malam hari karena besok paginya (hari Minggu) Kepiting harus sudah kembali ke Jakarta (sudah beli tiket).

Akhirnya Mas Agus memimpin perjalanan turun melewati jalur yang jarang dilewati pendaki. Jalur ini sangat menarik karena menuruni bukit yang curam dengan jurang di sisi kanan dan kiri serta semak-semak setinggi perut karena jarang dilewati.

Selain faktor curam, salah satu faktor yang membuat jalur ini jarang dilewati adalah cerita keangkeran jalur ini. Ah, ini tambah menarik!

Ada satu bagian di mana kami harus menuruni batu terjal setinggi kurang lebih 2 meter dengan kemiringan nyaris 90 derajat sedangkan di bawah hanya tersisa jalan selebar satu meter dan di depannya menganga jurang yang cukup dalam. Kami harus turun satu persatu, tas serta bawaan lainnya harus dilepas agar tidak mengganggu.

Di bawah guyuran hujan itu kami merangkak-rangkak menuruni batu terjal dengan kesempatan hidup 50:50 karena salah sedikit saja maka dipastikan akan terjun bebas ke dalam jurang tersebut. Sayang seribu sayang, kamera tidak tahan air sehingga momen mengerikan tersebut luput dari kamera T_T

Selanjutnya kami berjalan terpincang-pincang menuju basecamp..

makan nasi dan sayur tahu
Sampai di basecamp, setelah membersihkan badan dan mengganti pakaian dengan yang kering, kami kembali menikmati nasi dan sayur tahu serta segelas teh anget manis. Semoga di sorga ada makanan seperti itu..

Kami memutuskan untuk menyewa mobil box milik penduduk desa untuk menempuh perjalanan dari basecamp menuju terminal Magelang. Bareng dengan pendaki dari Jakarta, kami segera memasukkan barang bawaan ke dalam mobil bak terbuka yang telah dipasangi penutup agar kami tidak kehujanan.

Memasukkan barang bawaan ke dalam bak belakang tumpuk sarden

Setelah semuanya beres, kami masuk ke dalam mobil tersebut dan melanjutkan perjalanan ke Magelang untuk selanjutnya kembali ke Jogja.

Bisakah Anda hitung dan tebak berapa jumlah penumpang mobil tersebut? Di bak belakang, terdapat sekitar 7-10 tas gunung segede gaban lalu ditambah 12 orang yang duduk berhimpitan. Lalu di kokpit ada satu supir dan dua penumpang kemudian ada dua orang lagi yang masing-masing bergantungan di sisi kanan dan kiri. Jadi totalnya ada 7-10 tas gunung dan 17 manusia di dalam mobil sekecil itu.

Saya masih ada sedikit oleh-oleh untuk saya tulis di postingan selanjutnya. Saya benar-benar puas dengan perjalanan kemarin. Hujan dan kabut benar-benar membuat perjalanan menjadi semakin menyenangkan.

26 thoughts on “Merbabu Unplugged
  1. terakhir saya naek gunung adalah papandayan, pas aktif2nya..
    bantuin temen penelitian.. agustus lalu… ๐Ÿ™

    Ndal, kau selalu punya banyak acara menarik..ajak2 daku lahh ๐Ÿ˜€

  2. saya juga puas.. naik + turun dari jalur berbeda, dan bisa sampai kenteng songo!

    *panas2in sandal.. haha*

  3. jadi iri…
    tapi sepertinya saya udah ga kuat nanjak lagi
    paru-parunya udah dituker karburator hahaha

  4. dier mai lopli pren… sandal, pengki, ajeng & pandit…
    perjalanan kita memang mangstab bro and sis…walau nyaris mati atau minimal gila karna salah jalur…tapi sungguh menyenangkan…

    andaikan saia mendaki bukan gunung merbabu melainkan gunung yang di hotel garuda tsb dipastikan ceritanya tidak berakhir seperti ini…wakakkakaka…

    yang pasti gw bdua pengki nyampe dong ke “kenteng songo” *manas2in sandal jg* /kabooooooooor………

  5. gilaaaaa…. bikin ngiler bangeeeeets…. itu mbak Ami seperti gadis di sarang penyamun,hihihi…. btw,berry liarnya banyak ga jeng?

  6. lha iki sing tak enteni, wingi kok cuma poto gerobak e thok….tapi aneh, musim udan kok tracking, untung slamet, nDal ๐Ÿ˜€

  7. Setan, sementara gw masih berusaha untuk melepaskan pantat nan berlemak ini dari kursi kantor ente malah asik2an naek gunung, asuw (T_T)!. Next time ajak2 lah..

    Btw pas ente tereak *EFENDY* pas di gunung itu, si RisK yaut lho dari sini. ^^!

  8. Wah… wah… ngebaca posting yang panjang ini bikin gwa ngebayangin suasana alam pegunungan itu. Hixs… pingin banget mas…

    Apalagi foto yang di bagian ini wow suasan pegunungan yang lagi berkabut, keren… keren… ^_^

    (* ngiler mode on *)

  9. Huhuhuhu……jadi pingin…..!!! Musim hujan naik gunung mang lebih menantang!!!! Mas sesuk Nyang Gunung Ciremai piye??? Wuih jare koncoku lebih menantang…..suhu di puncak kadang bisa 8 derajat C…!!! menantang banget…..

  10. wah…. bikin jiwa mudaku bergelora lagi! terakhir aku naik merbabu 8 th yg lalu, …. lho kok malah curhat!
    btw cerita yg bagus ndal, kutunggu postingan merbabu selanjutnya

  11. hahah aku baru baca yen.. mantap juga judulnya wkwkwkwkkwkkw… wah semalem aku malah ngimpi naek lg tp naek ke semeru ๐Ÿ˜€

  12. Pingback: Merbabu Unplugged

Leave a Reply