Ketika misuh menjadi suatu sunah

Misuh itu dalam ajaran agama manapun pasti tidak diperbolehkan. Ajaran agama manapun pasti menginginkan umatnya berkata-kata yang baik dan enak didengar. Namun sayangnya ada beberapa kondisi di mana kita sudah tidak berkata-kata apalagi selain misuh, dan inilah yang saya sebut di mana misuh itu menjadi sunah untuk dilakukan.

Hari ini duit di kantong tinggal 4 ribu rupiah dan duit di ATM sama sekali tidak bisa dikeluarkan karena jumlahnya lebih kecil daripada jumlah terkecil yang bisa dikeluarkan oleh suatu mesin yang kaya itu, meskipun belum bisa disebut duitnya meteran.

Ada suatu rasa percaya diri bahwa hari ini saya akan mendapakan suntikan dana dari client yang melakukan re-design tampilan webnya. Lalu kemudian dapat kabar, bahwa sang client mendadak pergi ke Kamboja selama 10 hari. *glodak!*

Tiba-tiba di kepala sudah ada antiran kata-kata mutiara, mereka berbaris berjejalan saling dorong agar dikeluarkan lebih dulu.

Ah, saya sedikit menyesal terlahir di Bumi Jawa karena terlalu kaya akan khasanah pisuhan ini… (Suatu saat akan saya tulis tentang kekayaan khasanah kata-kata yang kita punyai.)

Meskipun sudah menjadi sunah, namun hati masih tidak rela untuk mengeluarkan barisan kata-kata yang sudah antri tersebut..

Kemudian teringat bahwa masih ada celengan recehan di internet tapi bingung bagaimana cara mencairkannya.

Untung ada seorang geekwati yang cantik dan baik hati yang bersedia menukar celengan virtual saya dengan duit beneran, sehingga saya bisa hidup lebih lama lagi dan kembali merubah level pisuhan itu menjadi mubah kemudian makruh.

Saya yakin Anda juga pernah mengalami kondisi di mana misuh menjadi sunah. Mari berbagi cerita ^_^

23 thoughts on “Ketika misuh menjadi suatu sunah

  1. sayang sekali, duwit saya belum meteran, tapi masih kuintalan *kata PakDhe malah kiloan ๐Ÿ˜ * jadi belom bisa nyuntik duwit ๐Ÿ˜€

    hem…bagemana dengan misuh yang menjadi fardhu ain? pernah ndak?
    ๐Ÿ˜€

  2. Coba aja saya tadi ga limit Ndal… mungkin bisa bantu
    dan mungkin postingan ini berubah jadi…. geekwan??

    arghh.. jelek kali ๐Ÿ™

  3. (Suatu saat akan saya tulis tentang kekayaan khasanah kata-kata yang kita punyai.)

    KEMANA AJA LU MON! :)))))))

  4. agh.. saya pikir misuhan yang udah ngantri bakal dikeluarin ternyata…

    *kecewe*

    -hidup misuh!!!!- (rusuh)

  5. loh tibake sandal iso misuh toh, lamis men lambene tumben

  6. Salam,
    Wah ngga punya duitnya sih saya sering ngalamin.
    Urusan beginian mah akrab. he he..
    Alhamdullillah Mas masih punya di celengan virtual.
    Masih ada harapan bakal terima walaupun entah kapan.

    Masih banyak yang ngga seberuntung kita.
    Bahkan kondisi seperti Mas diatas jangan2 masih merupakan mimpi bagi mereka.

    So, masah sih misuh2 jadi sunnah?

  7. hehe sama, pas kepepet misuh sering keluar secara otomatis
    tp aku g nyesel dilairin di bumu jawa hehehe
    *ngilang*

  8. Erm… misuh itu apa sich?

    Waktu jaman kuliah di bandung dulu saya juga pernah bbrp kali gitu, duit di dompet ga nyampe 10rb dan duit di ATM ga bisa ditarik karna jumlahnya kekecilan. Walhasil berpuas diri dengan makanan ala kadarnya dan kemana-mana jalan kaki.

  9. numpang misuh sithik yo kang?! soale lagi sunah ki, tak misuh nganggo aliran peternakan wae…

    wedhus! jangkrik! kebo! sapi! pitik! kodok!

    *mood lagi nggak setabil pasca Liverpool kalah di semipinal Champions lawan chelshit!*

Leave a Reply