Salah Siapa?
Di tanah kelahiran saya (Purwodadi) terdapat sebuah perlimaan (simpang lima) dengan sebuah tower PAM di tengahnya dan dikelilingi oleh taman serta trotoar yang melingkari taman tersebut. Juga ditanami pohon cemara (atau pinus?) di sekeliling taman yang membuat suasana menjadi teduh dan nyaman. Setiap pagi dan sore trotoar tersebut digunakan untuk jogging oleh penduduk sekitar.
Suatu hari ada cabang cemara/pinus yang patah, jatuh dan menimpa pejalan kaki yang sedang berjalan di trotoar tersebut. Kabarnya korban mengalami gegar otak dan di rawat di rumah sakit. Siapa yang bersalah?
Pohon yang bersalah? Sepertinya tidak, pohon sudah mempunyai sunnah tersendiri. Bahwa ketika batangnya lapuk maka akan patah dan jatuh karena gravitasi bumi. Tidak mungkin sebuah pohon akan menjatuhkan batangnya dengan tiba-tiba. Sesentimen apapun pohon tersebut terhadap manusia di bawahnya, pohon akan tetap pada sunnahnya untuk hanya patah dan jatuh jika lapuk, tertiup angin, atau terlalu berat menahan beban.
Lalu apakah pejalan kaki yang bersalah? Juga tidak, pejalan itu hanya ingin menikmati jalan yang nyaman dan teduh. Dia berada di tempat tersebut bukan untuk mengamati apakah pohon di atasnya lapuk atau kelebihan beban melainkan hanya sekedar berjalan, tanpa pemikiran apa-apa terhadap pohon tersebut.
Kemudian apakah dinas pertamanan yang salah karena tidak mengawasi pohon tersebut? Sepertinya juga tidak, pohon di Purwodadi yang dalam wewenang mereka tidak hanya berada di area simpang lima saja. Juga tidak mungkin bagi dinas pertamanan untuk mendata pohon satu persatu, mencatat mana yang lapuk dan mana yang tidak.
Tapi tiba-tiba sang pohon yang diputuskan untuk menjadi pihak yang bersalah. Semua pohon cemara/pinus yang tumbuh di area simpang lima tersebut digunduli. Pohon-pohon tersebut dipotong pada ketinggian 3-4 meter di atas tanah. Sekarang hanya tinggal batang-batang pohon yang berdiri seperti tonggak-tonggak saja.
Setelah semua yang terjadi, kira-kira pohon-pohon tersebut akan balas dendam apa tidak ya?
11 comments
Leave a ReplyCancel reply
Archives
- April 2025
- March 2025
- February 2025
- November 2023
- January 2023
- October 2022
- August 2022
- April 2022
- March 2022
- January 2022
- July 2021
- October 2020
- August 2020
- June 2020
- January 2020
- November 2019
- July 2019
- December 2018
- October 2018
- September 2018
- August 2018
- May 2018
- March 2018
- February 2018
- December 2017
- September 2017
- June 2017
- March 2017
- February 2017
- January 2017
- December 2016
- November 2016
- October 2016
- August 2016
- July 2016
- June 2016
- May 2016
- April 2016
- March 2016
- February 2016
- January 2016
- December 2015
- November 2015
- October 2015
- September 2015
- August 2015
- July 2015
- June 2015
- April 2015
- March 2015
- February 2015
- January 2015
- December 2014
- November 2014
- October 2014
- September 2014
- August 2014
- July 2014
- May 2014
- April 2014
- March 2014
- February 2014
- November 2013
- October 2013
- September 2013
- July 2013
- June 2013
- January 2013
- December 2012
- June 2012
- May 2012
- April 2012
- March 2012
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- November 2011
- October 2011
- September 2011
- August 2011
- July 2011
- June 2011
- May 2011
- April 2011
- March 2011
- February 2011
- January 2011
- December 2010
- November 2010
- October 2010
- September 2010
- August 2010
- July 2010
- June 2010
- May 2010
- April 2010
- March 2010
- February 2010
- January 2010
- December 2009
- November 2009
- October 2009
- September 2009
- August 2009
- July 2009
- June 2009
- May 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- December 2008
- November 2008
- October 2008
- September 2008
- August 2008
- July 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- March 2008
- February 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007
- September 2007
- August 2007
- July 2007
- June 2007
- May 2007
- March 2007
- February 2007
- January 2007
- December 2006
- November 2006
- October 2006
- June 2006
- March 2006
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | |||||
pertamax
pohonnya ngadu ke langit jeng. disana kan ada
pelangimatahari, awan. kalau panas, jadi panas banget. kalau hujan, malah bakal banjir.π
harus ada yang disalahkan π
berarti salahin angin. angin yang jatohin pohon yang udah lapuk
Pohon itu bilang, “Tak kasih suasana panas, baru tau rasa!”
kalo ditanya salah siapa..
salah kowe ndal mosting berita ini…
ooo… sampeyan wong pwdd tho…
aku nduwe sedulur neng gundih π
*lha hubungane opo… π
kita tidak dapat mendahului takdir.. (juga melambatkannya)
*opo hubungane?*
yang salah, orang yang nonton, lah ora ndang di tulungi malah posting ik…( heheh….maap ndal )
jawaban untuk itu juga ada…
saya pernah menyalahkan tuhan atas kejadian ‘MIRIP’ seperti itu.
orang lagi enak2 kerja nyangkul di sawah eh ditabrak pesawat terbang…(kejadian di kendari)..
kita juga sering menyalahkan tuhan kan?
kalimat ‘dipanggil tuhan’, ‘kehendak yang kuasa’, sering keluar dr mulut kita kan?
ngebut dengan rem blong, mati, ooohhh sdh dipanggil tuhan dsb dsb dsb
jadi jawababnnya?
ya itu tadi … situ niat untuk tahu atau untuk berdebat (alias cuma pengen tahu aja)?
^anynomus
saya bertanya-tanya, ya sukur-sukur bisa tahu.