26/01/2008
To Think Of

Frekuensi gelombang perasaan

Di Stasiun Gambir, ketika saya sedang menunggu kereta yang akan membawa badan saya kembali ke Jogja setelah semingguan berada di Jakarta, seorang teman –yang bagi saya sudah tidak layak disebut teman lagi, but beyond it– bertanya kepada saya: “After a week here, what do you think about Jakarta?

Saya hanya diam sesaat –karena memang tidak punya pikiran apa-apa tentang Jakarta– dan berkata, “Biasa aja. As is, seperti inilah adanya“. Dan dia menyahut, “Yeah, kamulah orang paling numb yang pernah aku temui“.

Cerita tentang stasiun-pun berakhir di situ. Soal tidak berperasaan, saya kurang tahu. Yang saya tahu, saya masih bisa sedih, senang, tertawa juga marah, cemburu atau apapun. Cuma kadangkala rasa-rasa tersebut hanya berhenti pada tenggorokan.

Lidah saya tidak pernah bisa menemukan pilihan kata yang tepat untuk melafalkan perasaan tersebut menjadi sebuah bunyi yang bisa didengar dan dipahami manusia. Bisa saja saya gunakan kata-kata generik, tapi saya tidak tega untuk melakukannya.

Pada suatu berita kematian, saya memilih diam dan berdoa dalam hati daripada mengucapkan kalimat “turut berduka cita” atau meminta orang yang ditinggalkan agar sabar. Alasannya? Rumit.

Benar-benar rumit. Ini seperti sebuah iman, di mana saya harus percaya bahwa kabel listrik yang sedang dialiri arus akan cukup hebat untuk membakar kulit dan syukur-syukur melemparkan badan saya beberapa meter jauhnya sehingga sengatan tadi tidak berlaku lebih lama lagi.

Lalu kepada orang-orang yang mempunyai frekuensi hati yang sama dengan saya, saya lebih memilih diam saat bersamanya. Tanpa suara, saya ingin berkata, “Aku dan kamu ditempat ini, mari samakan detak jantung kita agar seirama. Biarkan detak jantung kita melambat atau melaju, sehingga yang lambat akan mengejar yang cepat dan yang cepat akan melambat sehingga dalam suatu titik mereka akan bertemu.

Sayang sekali kata-kata di atas meluncur tanpa suara, tak pernah terdengar tak pernah terbaca..

Hei, frekuensi perasaan saya adalah n Mhz. Silahkan Anda tunning frekuensi perasaan Anda sehingga menyamai saya. Lalu kemudian kita bisa berbicara tanpa kata-kata.

21 thoughts on “Frekuensi gelombang perasaan
  1. ouw gitu

    *ada banyak yang pengin saya tulis untuk koment, tapi cumn tersekat di tenggorokan. jadi cukup diam πŸ˜€

  2. kok rada beda dgn posting yg dulu2 yah. Apakah ‘pintu sudah terbuka kembali’…

  3. glad dat i aint tuning in to the wrong frequency on the other day in different train station. or perhaps it was yours that synchronized w/ mine? i couldn’t ask for more, brotha. couldn’t ask for more…

  4. Hih ada orang aneh! πŸ˜›

    Ketika merasa sedih, seneng atau lainnya yang saya lakukan hanya diam (seolah tanpa reaksi dan ekspresi), entah kenapa saya juga nda mudheng. Tapi anehnya ketika perasaan itu menimpa orang lain, saya segera bereaksi.

    Apa mungkin kita se-frekuensi jeng yen? Atau mungkin frekuensi saya lebih ancur, hanya Tuhan yang tahu πŸ˜‰

    Damn my education I can’t find the words to say.

  5. nicely put bung, language of the heart is far more powerful than what is said, sometimes. be happy with it, as the more we said, the more mistakes we made. as u said, that the more people know u, the more hatred they’ll have on u. but we take risks, sometimes

  6. f**k the world bro
    f**k paijo…
    f**k with your hearth!!
    f**k ur friends
    f**k ur problemz
    f**k ur life
    f**k all
    everythingz is FUCK!!!
    go**amned!!!!!!

  7. ketika perasaanmu bergejolak memang sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata tetapi akan lebih baik ketika ‘gejolak’ perasaanmu sedang menari-nari dengan riangnya dan memberikan rangsangan keotak untuk melakukan something positive or negative dalam perbuatanmu, berdoalah itu jalan yang terbaik πŸ™‚

  8. yWd C ..pErasaN EmG gDa ABIZzz NA bWt BiSA d MEngERtI
    mElalUI ungKApan …
    tPy Melalui UNgKAPAN ..
    OraNG akAN taU keADAN lW SebeNER na

Leave a Reply