Salah Siapa?

May 26, 2008 | To Think Of

Di tanah kelahiran saya (Purwodadi) terdapat sebuah perlimaan (simpang lima) dengan sebuah tower PAM di tengahnya dan dikelilingi oleh taman serta trotoar yang melingkari taman tersebut. Juga ditanami pohon cemara (atau pinus?) di sekeliling taman yang membuat suasana menjadi teduh dan nyaman. Setiap pagi dan sore trotoar tersebut digunakan untuk jogging oleh penduduk sekitar.

Suatu hari ada cabang cemara/pinus yang patah, jatuh dan menimpa pejalan kaki yang sedang berjalan di trotoar tersebut. Kabarnya korban mengalami gegar otak dan di rawat di rumah sakit. Siapa yang bersalah?

Pohon yang bersalah? Sepertinya tidak, pohon sudah mempunyai sunnah tersendiri. Bahwa ketika batangnya lapuk maka akan patah dan jatuh karena gravitasi bumi. Tidak mungkin sebuah pohon akan menjatuhkan batangnya dengan tiba-tiba. Sesentimen apapun pohon tersebut terhadap manusia di bawahnya, pohon akan tetap pada sunnahnya untuk hanya patah dan jatuh jika lapuk, tertiup angin, atau terlalu berat menahan beban.

Lalu apakah pejalan kaki yang bersalah? Juga tidak, pejalan itu hanya ingin menikmati jalan yang nyaman dan teduh. Dia berada di tempat tersebut bukan untuk mengamati apakah pohon di atasnya lapuk atau kelebihan beban melainkan hanya sekedar berjalan, tanpa pemikiran apa-apa terhadap pohon tersebut.

Kemudian apakah dinas pertamanan yang salah karena tidak mengawasi pohon tersebut? Sepertinya juga tidak, pohon di Purwodadi yang dalam wewenang mereka tidak hanya berada di area simpang lima saja. Juga tidak mungkin bagi dinas pertamanan untuk mendata pohon satu persatu, mencatat mana yang lapuk dan mana yang tidak.

Tapi tiba-tiba sang pohon yang diputuskan untuk menjadi pihak yang bersalah. Semua pohon cemara/pinus yang tumbuh di area simpang lima tersebut digunduli. Pohon-pohon tersebut dipotong pada ketinggian 3-4 meter di atas tanah. Sekarang hanya tinggal batang-batang pohon yang berdiri seperti tonggak-tonggak saja.

Setelah semua yang terjadi, kira-kira pohon-pohon tersebut akan balas dendam apa tidak ya?

11 comments

This post has 11 comments, wiiiiii!

  1. pertamax 26/05/2008 at 11:52

    pertamax

  2. pengki 26/05/2008 at 12:03

    pohonnya ngadu ke langit jeng. disana kan ada pelangi matahari, awan. kalau panas, jadi panas banget. kalau hujan, malah bakal banjir.

    πŸ˜€

  3. itikkecil 26/05/2008 at 12:12

    harus ada yang disalahkan πŸ˜€

  4. waterbomm 26/05/2008 at 14:18

    berarti salahin angin. angin yang jatohin pohon yang udah lapuk

  5. Thomas 26/05/2008 at 17:55

    Pohon itu bilang, “Tak kasih suasana panas, baru tau rasa!”

  6. leksa 26/05/2008 at 18:33

    kalo ditanya salah siapa..
    salah kowe ndal mosting berita ini…

  7. wedhouz 27/05/2008 at 06:10

    ooo… sampeyan wong pwdd tho…
    aku nduwe sedulur neng gundih πŸ˜›

    *lha hubungane opo… πŸ˜€

  8. zam 27/05/2008 at 08:45

    kita tidak dapat mendahului takdir.. (juga melambatkannya)

    *opo hubungane?*

  9. gondez 29/05/2008 at 17:16

    yang salah, orang yang nonton, lah ora ndang di tulungi malah posting ik…( heheh….maap ndal )

  10. anynomus 19/02/2009 at 17:26

    jawaban untuk itu juga ada…
    saya pernah menyalahkan tuhan atas kejadian ‘MIRIP’ seperti itu.
    orang lagi enak2 kerja nyangkul di sawah eh ditabrak pesawat terbang…(kejadian di kendari)..
    kita juga sering menyalahkan tuhan kan?
    kalimat ‘dipanggil tuhan’, ‘kehendak yang kuasa’, sering keluar dr mulut kita kan?
    ngebut dengan rem blong, mati, ooohhh sdh dipanggil tuhan dsb dsb dsb

    jadi jawababnnya?
    ya itu tadi … situ niat untuk tahu atau untuk berdebat (alias cuma pengen tahu aja)?

  11. Yeni Setiawan 19/02/2009 at 17:52

    ^anynomus
    saya bertanya-tanya, ya sukur-sukur bisa tahu.

 

Leave a comment

Allowed tags are: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>