Bukan tentang dia

January 28, 2008 | To Think Of

Ketika seseorang –menurut kita– bersalah, maka otomatis hati dan pikiran serta ucapan tentang dia tidak ada baiknya. Seolah lupa bahwa dia pernah berbuat baik kepada kita, seolah dia adalah manusia paling jahat se alam semesta.

Eh, saya tidak sedang membicarakan the smiling general yang saat ini sedang saya saksikan dengarkan acara pemakamannya di televisi. Saya berbicara dalam konteks yang lebih luas. “Dia” bisa berarti mantan pacar yang selingkuh, teman yang merebut pacar kita, atau siapapun yang menurut kita tidak layak untuk dimaafkan.

Saya hanya ingin bertanya, apakah kita lebih baik daripada dia? Atau, akankah kita melakukan hal yang berbeda –yang menurut kita lebih baik– saat kita berada di dalam posisi dia?

Ah lupakan, saya hanya sedang kesal dengan banyaknya orang yang tidak terlahir sebagai hakim namun mahir menghakimi, mengambil alih kuasa Tuhan untuk menentukan baik-buruknya seseorang, sementara Tuhan sendiri sebenarnya berada di atas segala kebaikan dan keburukan.

16 comments

This post has 16 comments, amazing!

  1. anima 28/01/2008 at 14:06

    we’re never ever in the position to judge 🙂

  2. masnyus 28/01/2008 at 14:52

    podium…
    weleh….

  3. kangdiman 28/01/2008 at 14:56

    wes mulai lagi..nulis apa neh dik…sing semeleh yo le…kekekek ;))

  4. detnot 28/01/2008 at 15:15

    saya harap postingan ini bukan karena jeng sendal sedang demam kepanasan di pantai kemaren 😀

    btw, “slenthikan” sampeyan banyak yang mak nyus jeng 😡

  5. sluman slumun slamet 28/01/2008 at 17:12

    duh, semakin bijak nih….
    😀

  6. Fany 28/01/2008 at 18:37

    saya juga kesal…

  7. extremusmilitis 28/01/2008 at 22:47

    yupe aku rasa, aku setuju dengan ini, lebih baik diam saja, daripada kita harus meng-hakimi orang untuk sesuatu di-tengah ke-buruk-an dan ke-baik-an-nya.

    mem-bukti-kan kata pepatah lama:
    “gara-gara nila se-titik, rusak susu se-belanga” 😉

  8. Esmeralda 28/01/2008 at 23:40

    apakah ini ada hubungannya dengan sesuatu yang kita bicarakan pagi tadi Pedro?*padahal sepagi ndak mbicarain apa apa*:lol:

  9. sarah 29/01/2008 at 00:33

    Namanya juga orang lagi kesel, pasti pikiran nya negatif mulu. So…be positif. 😉

  10. eko 29/01/2008 at 00:55

    orang bijak makan salak

    Asal ga satu “peti” ga akan “mati”.

  11. Goen 29/01/2008 at 02:11

    Tumben ngomong kayak gini… 😀

    *kabur*

  12. cempluk 29/01/2008 at 06:25

    kita sebagai manusia hanya bisa instrospeksi diri..kita juga tidak bisa menjustice diri kita lebih baik dari orang..

  13. pengki 29/01/2008 at 07:04

    kok saya cenderung setuju sama sarah ya. *hayah*

    kadang waktu hal negatif datang (kesal, marah, capek, iri, dengki (bukan pengki), tersakiti secara lahir batin ), orang cenderung susah untuk ngeliat dari sisi berbeda.

    ya ya, egoisme manusia.

  14. starboard 29/01/2008 at 09:03

    Kalo kita kesel lebih baik kita pijetan loh dik. Biar kesel nya ilang 😀

  15. the_kepiting 29/01/2008 at 10:16

    pak yeni yang terhormatjikalau pak yeni sedang gundah hatisebaiknya pak yeni brangkat ke jakartananti saya antarkan kekawasan yang bikinhati pak yeni menjadi tenang…”taman lawang” jawabannya.

    regards,

    the kepiting

  16. waterbomm 29/01/2008 at 18:01

    @jeng sarah : keknya be a negative deh.. *gara-gara baca buku “be a negative” karya Susan Naomi* so be negative!! ga semuanya melulu musti be postive hihi…

    @the kepiting : loh bukannya tempatnya jeng yeni di lapangan banteng? CMIIW

    Gara – gara nila setitik rusak susu sebelangga – mungkin itu jeng tepatnya… kebaikan seseorang akan dilupakan ketika orang tersebut berbuat jahat sekali pun.. karena kejahatan seseorang lebih awet diinget ketimbang kebaikkannya… (nyambung ga sih? hahaha…. podo wae)

 

Leave a comment

Allowed tags are: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>